Wednesday, May 26, 2010

Andaikata (renung-renungkanlah)Sumbangan romeso2004 pada Tuesday, May 25 @ 21:02:16 MYT


 

Seperti yang telah biasa dilakukannya ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rasulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan.Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu. Kemudian Rasulullah berkata, "Tidakkah almarhum mengucapkan
wasiat sebelum wafatnya?"





Isterinya menjawab, "Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara
dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal" "Apa yang di
katakannya?" "Saya tidak tahu, ya Rasulullah, apakah ucapannya itu
sekadar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya
sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran
merupakan
kalimat yang terpotong-potong." "Bagaimana bunyinya?" desak Rasulullah.


Isteri yang setia itu menjawab, "Suami saya mengatakan "Andaikata lebih
panjang lagi.. andaikata yang masih baru.. andaikata semuanya...."
hanya
itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah
perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah
pesan-pesan yang tidak selesai?" Rasulullah tersenyum, "Sungguh yang
diucapkan suamimu itu tidak keliru,"ujar Baginda.

"Kisahnya begini. Pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid
untuk melaksanakan shalat jum'at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan
orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak
ada yang membantu. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di
masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan
pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata "Andaikan lebih panjang
lagi". Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi,
pasti pahalanya lebih besar pula." "Ucapan lainnya ya Rasulullah?"tanya
sang isteri mulai tertarik.

Nabi menjawab, "Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia
melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu
ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi
jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir
mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain
yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya
kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya.
Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal
kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, "Andaikan yang
masih yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti
pahalaku jauh lebih besar lagi". Itulah yang dikatakan suamimu
selengkapnya."

"Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rasulullah?" tanya
sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan, "Ingatkah
kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan
meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang
telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya,
tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu
lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan
kepada
musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak,
iamenyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia
pun menyesal dan berkata "Andai aku tahu begini hasilnya, tidak hanya
kuberikan separuh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah
pasti ganjaranku akan berlipat ganda.

Memang begitulah keadilan Tuhan.

Pada hakikatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang
beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak
lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk.
Akibatnya juga akan menimpa kita sendiri.

Karena itu Allah mengingatkan: "Kalau kamu berbuat baik, sebetulnya
kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, bererti
kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula." (surat Al Isra':7)

No comments:

Post a Comment

anda mungkin juga meminati ini

Related Posts with Thumbnails
Loading...

tatapan

Loading...